Thursday, October 18, 2012

ASESA 4

Tepat di manik matanya, yah, Aku akhirnya melepas air matanya tapi tidak terlihat, tidak tertembus oleh mata sebening apapun. Karena bagai kabut bahkan kaca nako, hujan menutupi setiap tetesannya dari mata Aku. Segukan demi segukan mengalir tapi tetap saja Asesa tidak mampu mendengarnya. Angin lebih kencang menghembuskan gemuruh  galak seakan mengerti, membela, berkeinginan memarahi Asesa tapi apa daya dia hanya angin, Aku bukan siapa-siapa. dibiarkannya Aku membeku dan menerbangkan Asesa pada cintanya yang akan masuk, yang menenggelamkan aku pada bilabong kemudian dilahapnya Aku tanpa bekas. Tanpa perlu diketahui bahwa Aku sesak, menangis perih, menatap miris.

Miris ! Memang keterlaluan ! Jika terus begitu, siapapun yakin, Aku akan terbunuh tanpa tersentuh, hanya melihat mungkin nanti Aku memohon untuk buta lantas tuli.