Monday, August 1, 2011

Kenangan Tentang Bintang

Sekarang semua kenangan tersimpan, mereka bukan anak kecil lagi tetapi remaja, anak SMA yang sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Pagi itu kelas ricuh banget seperti taburan sampah berantakan banget padahal sih bukan sampah tapi siswa (parah banget yach…).
" Anak-anak tenang !! Ibu minta tolong perhatiannya " kelas spontan hening secara yang masuk adalah guru kimia yang super duper killer.
" Ada anak baru pindahan dari bandung, tolong perkenalkan diri kamu !! "
" Nama saya Rian Akhyar, pindahan dari Bandung "
" Kamu duduk di….di samping Mozza " tunjuk Bu Ana
" Di sini ada Kiki bu, dia lagi ke Mushala, berdoa bu"
" Berdo'a buat nyari cewek " celetuk seorang cowok yang membuat satu kelas tertawa.

*          *          *

Beberapa hari Rian sekolah, dia menjadi sahabat Mozza dan mendapat banyak fans termasuk cewek tercantik di sekolah, Echa seorang model remaja yang lagi naik daun. Echa minta tolong sama Mozza untuk ngejodohin mereka.
" Please dong, gue minta tolong " pinta Echa
" hHHh…Gue usahain deh " balas Mozza
" Thanks banget "
" Sekarang kita ke kelas gue, kita mulai episode satu, perkenalan " ajak Mozza berjalan bersama Echa keluar dari toilet setelah merapatkan hal penting, bisnis berat nih. Mereka memasuki kelas, membuka mata mencari Rian.
" Woy… lagi ngapain? pasti takut di kejar-kejar fans ? “ Rian tidak menjawab
“ kenalin nih sahabat gue, namanya Echa " Mozza menyambung pembicaraannya.
" gue Rian " Rian memberikan tangannya untuk disambut Echa.
" Echa "
" Lo bukannya model yang terkenal itu, kan ? " Echa tidak menjawab hanya membalas dengan senyuman manis.

*          *          *

Episode satu selesai. Episode kedua, Mozza berhasil mendekatkan Rian dengan Echa sekarang mereka selalu bertiga. Saatnya episode ketiga, waktu penembakan, semuanya berjalan dengan lancar dan mereka jadian.
Malem itu Mozza main ke rumah Rian, karena Rian meminta Mozza untuk dengerin curhatannya. Saat di kamar Rian, Mozza ngegeratak dan nemuin benda yang menurut dia nggak asing lagi.
" Buat apa lo simpen benda ini ? " selidik Mozza
" Teropong ? dari kecil gue seneng banget  liat bintang, nih " Rian menjelaskan sambil menyerahkan teropong itu kepada Mozza, ucapan tadi berlalu, Mozza menatap Rian dengan segala penafsiran.

Setelah malam itu, entah mengapa Mozza tidak masuk sekolah dengan waktu yang cukup lama, selentingan kabar ada yang bilang bahwa Mozza sakit. Handphonenya tidak pernah aktif bukan itu saja yang membingungkan, Rian dan Echa mencari tahu ke bagian administrasi sekolah dan ke rumah Mozza, tetapi tidak ada jawaban yang pasti.
Ketika Rian sudah bingung mencari lagipula ini sudah liburan, Mozza menelepon dan meminta Rian datang ke rumahnya.
" Za, kenapa lo nggak masuk sekolah ? lo sakit ? muka lo tuh pucat, ada apa ? " Tanya Rian beruntun
" Tenang aja, gue minta lo ke sini mau ngajakin lo sama Echa ke bandung, mau nggak ? "
" Bandung ? “
“ ya “
“ gue sih mau aja “
“ besok kita berangkat “
“ secepat itu ? “
“ kenapa ? “ Tanya Mozza pelan
“ nggak. Why not ? Bandung I’m coming “ balas Rian.

*          *          *

Mereka berjalan-jalan dan bersenang-senang, pergi dari satu toko ke toko yang lain, berburu makanan khas bandung di cihampelas, ke kebun strawberry, ke ciwidey berfoto-foto ria, melihat pemandangan tangkuban perahu, mencium bau belerang yang lekat, dan mendaki ke puncak lembang kebun teh dengan kabut tebal dan udara yang dingin, tetapi ketika kabut naik dan hari semakin petang mereka turun. Saat mendekati parkiran mobil, Mozza jatuh, badannya tergeletak lemas, kemudian dia dibawa ke villa.


Mereka bergegas ke kamar Mozza " Rian, gue mau ke bosya " pinta Mozza
" Tapi lo sakit " balas Rian, namun Mozza menatap Rian dengan harapan yang dalam.

*          *          *

Echa memasuki bosya tetapi Mozza enggan, dan Rian mendampinginya. Mozza melihat bintang di luar dengan mata telanjang.
" Duduk za " Rian agak menopang tubuh Mozza yang lemas untuk duduk di sampingnya.
" Qi-l-la, Qil-la, Aqilla Mozza "
" Lo Qilla ? " tanya Rian terkejut
" Qilla masih nunggu, nggak selingkuh dan masih punya mimpi yang sama "
waktu kecil saat melihat bintang dengan Rian, Qilla menyebutkan mimpinya, ketika sudah dewasa dia ingin melihat dan menghitung bintang bersama pacarnya.

Rian mencoba mewujudkan mimpi Mozza dan mulai hitungannya, kemudian bergantian dengan Qilla.
" Tiga ratus tujuh puluh…terusin dong, La " Qilla tidak menjawab.
" La…Qilla " Rian memanggil dan menggoyangkan tubuh Qilla tetapi tidak ada jawaban.
" Qil, ini masih jam dua belas belum saatnya, Qilla harus temenin Rian " Rian sadar bahwa Qilla takkan menjawab ucapannya, pasti takkan kembali, setidaknya Rian sudah mewujudkan mimpi Qilla, Rian ikhlas atas kepergian Qilla dan inilah Kenangan Tentang Bintang.


Dibuat : Tuesday, February 27, 2007


0 komentar:

Post a Comment

semakin dikorek semakin hot