Sunday, August 28, 2011

PART 1-Cidera Membawa Spektakuler


            Sumber energi cahaya, matahari, tidak hentinya menyoroti bumi layaknya sinar mata elang dari lampu-lampu yang fokus memberikan sinarnya di panggung. Jakarta pastinya !!! kota penuh penduduk, dari yang miskin jijik, miskin gaya, sederhana sampe tajir keselek mampus.
            Stasiun gambir, didominasi warna hijau daun muda sedikit menenangkan setelah berpenat ria dalam kereta atau memandangi sekelilingnya. Jarum jam terasa berlari sangat kencang mengelilingi bingkainya. Semua orang yang melintas terburu-buru. Jakarta ? beginilah !! kota yang jadi incaran penduduk desa sebagai kota rezeki.
            “telat gua !! mampus !! mampus !!” batinku berteriak-teriak mamompa darah lebih kencang mengakibatkan wajahku menjadi merah padam. Sekarang yang ada dalam pikiranku hanyalah lari terus pantang mundur agar tidak telat sekolah. Langkahku semakin pelan “hah, sibuk banget aku lari kenceng-kenceng. Yang lainnya aja santai kayak di pantai hehe” ujarku mengatur nafas. Saking seriusnya, ada sesuatu yang terpental keluar dari lubang hidung kiri.
“ya ampun ! jenglot ! udah nggak sabar keluar !” aku merasa piaraanku ini, jenglot, sudah tidak tahan ingin keluar dari peraduannya. Akhirnya, merasa lubang hidung kiri plong, aku merogoh lubang hidung sebelah kanan “jenglot, ayo keluar, lot ! biar hidup kamu tenang” rayuku pada jenglot yang berada di lubang hidung sebelah kanan. Walaupun sudah merayu tetap saja jenglot yang satu ini menyebalkan. Perlu kekuatan dan kesabaran ekstra untuk mengeluarkannya. Jenglot ? makhluk gaib yang berukuran kecil yang memiliki kekuatan magic yang dahsyat. Tapi jenglot disini bukan itu. Hm … ng … gimana yah ceritanya ? dari mana mulainya ?! Okeh ! aku bakalan coba. Semangat ! kalo seseorang menekuni sebuah hobi, pasti kecintaan sangat mendalam, memiliki seutan-sebutan unik tentunya. Di dalam hidung yang dapat dikeluarkan hanya dua jenis, dan keduanya yaks … jijik abeeees !! ‘ingus’, berwarna kuning-hijau terang ngejreng berupa cairan kental yang kalau dikeluarkan dari peraduannya bisa naik-turun kayak ada karetnya mirip orang lagi main bungi jumping. Lalu kotoran hidung bahasa gaulnya sih ‘upil’, kayak lilin mainan atau double tip yang diuntel-untel, ukuran tergantung pemilik hidung dan warnanya hijau tua dicampur hitam. Misterius gitu deh pokoknya ! jawaban yang kalian tunggu-tunggu adalah yang kedua. Jenglot itu upil, kerennya dust of nose.
“ah, dapet loh ! mau lari kemana tetep aja nyawa kamu ditangan aku” tukasku memainkannya nggak sadar ternyata aku terlalu lama berdiam diri mencari jenglot. Pemandangan sepi.
“bego !” sambarku kepada diri sendiri.
            “kamu tahu ? Cuma kamu satu-satunya murid yang berani datang pukul setengah sembilan !!” guru itu berbicara dengan tegas dan keras membuatku bukan hanya diam tapi juga terpaku bahkan hampir menangis. Andai saja aku berani bebicara, aku akan menjelaskan semua-mua-muach … nya, aku terlambat karena terlalu lama ngodek ( sama saja artinya dengan mencari, mengubek dll) si jenglot yang keras kepala itu. Menyebalkan !! huuh … sayangnya aku tak bisa mengutuk jenglot karena dia adalah aku dan aku adalah dia (walau sementara saja, karena pastinya akan ku keluarkan layakanya pup … maaf !!).

Keesokannya …
            Waduh, aku ini lebih bodoh dari keledai (ku kutip dari peribahasa yang bunyinya ‘keledai saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama’). Aku telat lagi !! ini lebih parah, aku kelewatan dari stasiun gambir aku malah turun di stasiun kota. Duh … datarannya rendah sekali dibanding stasiun gambir dan bangunannya udah jadul banget jadi klasik gitu deh !! jarak tempat aku turun dengan pintu keluar cukup dekat. Ini sangat menghemat waktuku.
“waduh naik apaan nih ?!” ucapku pelan celingak-celinguk.
            Parah (bukan pantat merah) banget ! aku dikunciin lagi. Aku tercengang. Tiba-tiba sebuah mobil Honda CRV putih (kurasa ! karena aku tak begitu memperhatikan) menyambarku dari belakang cukup keras dan melemparan tubuhku dari jarak 70 cm ke gerbang.
“aaa … !!” aku berteriak. Kombinasi suara gerbang besi yang bergoyang dengan pekikan rem mobil menambah deritaku. Seseorang keluar dari mobil itu.
“lo sih berdiri sembarang tempat, kacau nih !” lagi-lagi kombinasi (aku bingung menuliskan kata apa) kesal, marah, resah, takut dan meyesal terlihat dari wajahnya. Aku diam, tidak terasa aku sudah menagis tanpa suara. Satpam sekolah keluar dari peraduannya menatapku ibah. “bengong aja !! cepet bukain gerbangnya” ujar cowok itu (aku lupa bilang kalo seseorang yang keluar dari mobil itu adalah cowok yang keren dengan potongan celana sekolah yang makin kecil bagian bawahnya. Tren anak sekolah ‘cowok’ masa kini) kepada satpam. Kontan tanpa ceramah pak satpam langsung membukakan gerbang.
“tolong masukin mobil saya, pak” pinta cowok keren itu memberikan kunci mobilnya.
“sorry yah” cowok itu menggendongku seperti pengantin pria yang mengajak pengantin wanita untuk malam pertama (sok taunya diriku ini J).
“kamu ngapain ? badanku tuh sakit-sakit tau” cowok keren itu terus berjalan.
“begini-begini gua cowok bertanggung jawab. Lo mau yang angkat lo pak satpam ?” aku diam bukan hanya bingung harus jawab apa tapi badanku sulit bergerak.
“lo nggak pernah diet ya ?!” Tanya cowok keren itu.
“itu kan nggak sehat”
“pantes ! gua kayak bawa kebo”
Plak … plak … plak … rasanya aku habis ditampar bolak-balik, ucapan cowok keren ini sungguh menyakitiku rasanya seperti ingin membunuhku. Dia mirip dengan kreacher (tokoh nyebelin di harry potter and the order of the phoenix) yang melakukan tindakan fatal dan membawa akibat mengerikan buatku (seharusnya harry) terus aku jadi minder. Hik … hiks … apa iye aku segede itu ? please deh ! ini cowok lebay banget !!! kayaknya nggak pernah ada yang bilang aku gede (seingetku). Aku diletakkan di ruang tidur alias UKS. Nggak parah sih !! Cuma pegel-pegel dan betisnya sedikit luka karena tergores plat mobil cowok itu (sudah kuhapus kata kerennya).

Cowok itu menyambangi pak satpam
            “loh, pak ? kok mobil saya nggak dimasukin ?”
“masukin ? gimana caranya, den ? saya nggak bisa bawa mobil. Jadi saya tungguin aja” balas pak satpam. Cowok itu Cuma geleng-geleng kepala dan mengucap trims.

Dua hari kemudian …
            Tau ga sih loh ? aku kira dua hari yang lalu hanyalah sebuah kecelakaan titik nggak ada kelanjutannya. Ternyata salah !! cerita ini booming abis !! lebih spektakuler dari foto ala Julie Estele yang pake bikini, Laudya Chinttia Bela minum wine, foto palsu bugilnya Sandra Dewi atau videonya Ariel Peterpan VS Luna Maya. Sekali lagi aku ucapin bener-bener spektakuler !! ternyata cowok itu memang cowok yang  beritanya lagi hot-hotnya. Dia itu (duh, aku lupa lagi. Abis menurutku nggak terlalu penting) dia … oiyah … dia itu pemenang dari lomba hunting photo snap yang hadiahnya jutaan rupiah dan (katanya) hebatnya dia karena sebenarnya dia lebih jago foto dengna kamera SLR tapi di lomba itu diharuskan menggunakan kamera digital. Pasti kalian bertanya-tanya, apa hubungannya dengan spektakuler ? ya ampun, aku jadi buruan cewek-cewek freak yang anggep hal ini penting banget buat di simak bahkan dijadikan workshop atau seminar. Huuh, capek banget !! spesiesnya macem-macem lagi ada yang baik, nggak percaya dan ngeselin, jutek, nggak tau diri ngancem-ngancem “awas lo ! kalo kegatelan sama cowok gua”
“ih, males banget deh ! makanya, mustinya kepala tuh cowok distempel ‘punya gua’ ” tukasku nggak kalah jutek.
Hebohnya lagi aku sampe diwawancara oleh tim mading.
“bagaimana kesan kamu digendong angga ?” aku melemparkan wajah penuh Tanya. Angga ? maksudnya angga-angga wae ?! ya tuhan ! jadi cowok itu namanya angga. Bagus amat ! mirip nama tokoh utama di film ada apa dengan cinta.
“memangnya udah jadian berapa lama ? mesra banget yah”
“so sweet” yang lain ikut menyambar
“apanya sih aku nggak ngerti ?” tanyaku menggebu
“kamu, Delta Maharani udah berapa lama jadian sama Rangga Junior Saputra ?”
“hah ?? kalian tuh gila yah ? aku tuh nggak pernah---“ belum sempat aku menjawab dengan lengkap, mereka bergegas pergi dan mengucapkan “terima kasih. Kami sudah mengerti”
Bagus deh kutu-kutu itu pergi. Kurasa penderiataanku lenyap. Setidaknya aku dapat informasi mengenai nama cowok itu yang benar-benar sok ngartis. Rangga, ternyata bukan mirip tetapi sama dengan nama tokoh di film ada apa dengan cinta. Junior, mirip dengan artis yang main film kamulah satu-satunya Dan Saputra adalah nama dari actor Nicholas Saputra, siapa sih yang nggak kenal dia ? ayo bilang sama aku ! hmm, who care.

Pulang sekolah …
            Gara-gara kisah spektakuler itu, aku harus pulang sekolah ketika isinya sudah sepi. Ketika melewati madding ada hal yang menarik perhatianku. Fotoku terpampang dengan wajah cangak (cengo, bingung, celeng atau apalah namanya).
“aku nggak terima” tukasku manyun. Kemudian kutelusuri lagi isi artikel itu. Di situ tertulis, aku tersenyum-senyum, wajah memerah dan salah tingkah saat ditanya mengenai Rangga. Delta tidak berkata-kata karena senangnya, awalnya mereka sepakat untuk merahasiakan hubungan itu atau backstreet tetapi terlanjur basah semua siswa mengetahuinya jadi ia bersedia membagi kebahagiaannya kepada semua siswa.
“aku nggak pernah bilang kayak gitu. Lebay ! aku benci mereka !”
“aku ingin bilang yang sebenarnya, tapi mereka bilang mereka ngerti !! mereka tuh fitnah ! ternyata gini yah rasanya jadi artis yang difitnah abis-abisan”
“aku pengen banget ngutuk dan mengatakan pada mereka ‘imperio’ supaya mau melakukan apa aja, terus ngejelasin yang sebenernya” aku berbicara tanpa henti. Kemudian mataku kembali membaca tapi ini wawancara dengan pak satpam, ia mengatakan “wah, mereka pacaran !! baik sekali den angga mau menggendong non delta. Selamet yah, nak ! tapi jangan lupa belajar. Kalian pasangan serasi”
“ini lagi ikut-ikutan ! benci ! aku mau jadi sun go kong yang rohnya bisa pergi kemana-mana, biar mereka aku buat takut dan nyerah”
“huh, pengen banget ! aku ngebuang mereka ke laut terus mereka dimakan ikan piranha” ocehanku melambung.
“jahat banget sih obsesi lu !” ternyata ada si rangga
“aku pengen nyihir satu sekolah biar lidah mereka nempel di langit-langit mulut, jadi mereka nggak bisa ngomong pake mantra ‘langlock’ “ aku memperagakan.
“termasuk kamu, Rangga Junior Saputra”  aku berlari meninggalkan dia tapi dia malah tertawa, dasar fotografer stress, otaknya rusak, dangkal, lebih dungu dari pada Patrick sahabatnya Spongebob. Kuputuskan Patrick bukanlah yang teridiot tapi masih ada cowok sok ngartis itu, Rangga ! yaks, cuih !!


0 komentar:

Post a Comment

semakin dikorek semakin hot