Monday, August 1, 2011

Not True Love

            " Oh… mungkin aku bermimpi menginginkan dirimu untuk ada di sini menemaniku…" Senandung itu terus digumamkan Zela sembari mengutak-atik i-podnya. Dia terlihat asyik duduk menyandar di gang kecil tidak terpakai belakang gedung sekolah. Tidak seorang pun yang rela waktunya terbuang sia-sia di tempat kumuh ini, tetapi Zela menganggapnya seperti buku harian terbuka yang tidak akan terkuak rahasia di dalamnya sampai kapanpun tentang rasa sedih, sakit, pahit, dan sulitnya hidup yang dijalani, kata-kata bahagia tidak pernah ada lagi dalam kamus hidupnya bahkan Zela sudah lupa kapan terakhir dia merasakan bahagia, sampai Agi datang. Rasa takut karena kesendiriannya, tawa lepas yang dulu tidak terlihat sekarang terpancar dalam raut wajah Zela, Zela menjadi seperti bunga layu yang disiram dan ditambah pupuk.

*       *       *

        Bola basket itu menggelinding sangat jauh mendekati gang usang yang tidak lagi terpakai, merdunya suara duet terdengar sangat menenangkan.
" Ngapain lo di sini ? Sendirian ?! " Tanya Agi, cowok yang mengejar bola basket.
Zela menghentikan nyanyiannya dan melepaskan headsat i-podnya.
" Lo yang ngapain ke sini ? " Tanya Zela dengan jutek meninggalkan cowok itu.
" Sendiri menepikan hati, menjauhi raya nun api, mencari sepi, meluapkan amarah, menghilangkan keji di hidup ini "
" Jadi lo yang ngambil puisi gue ? gue pikir ketiup angin, ternyata ada maling "
" Bukan, gue suka sama puisi itu, jadi…. "
" Jadi lo curi ? "
" Nggak, gue mau temenan sama lo, mau ? "
" Lo mau temenan sama gue ? eh…hmmm… berteman ? " Tanya Zela menyodorkan tangan
" Yup "
" Okey "

*       *       *

        Agi menemukan Zela di gang itu, menatap heran dan menyimpan beribu pertanyaan.
" Sejak kapan lo berani bolos pelajaran ? "
" Sejak…. Sejak gue berteman sama lo " Jawab Zela asal
" Gue temenin "
" alasan, nenek-nenek makan keripik "
" Apaan tuh ? "
" Itu cuma speak "
" Sorry " jawabnya mengelak
Agi duduk di samping Zela, mengikuti posisi duduknya.
" Gimana kesehatan lo ? "
" Cuma lo yang nanyain hal itu ke gue "
" Gue janji, gue akan selalu menjaga lo "
Zela membalas dengan senyuman. Selain senyuman, kebahagiaan, Zela tidak pernah menyanyikan lagu sendu itu, bahkan tidak lagi membuat deretan kata-kata sedih.
        Samarkan kekeruhan Di hati
        Itu yang aku ingini
        Kini rapuhku telah sehat
        Semuanya terajut rapi
        Tetesan kesegaran kembali
        dan aku hidup lagi di dunia ini.
        Tetapi tidak ada yang abadi begitu juga dengan janji Agi, dia mulai melupakan Zela dengan kehadiran Natha, anak baru yang jadi inceran cowok-cowok di sekolah. Agi tidak pernah lagi menyusul Zela di gang, ke kantin bersama, sampai-sampai untuk menyapa Agi sulit karena terlalu asyik dengan Natha.

*       *       *

        Lagu itu terdengar lagi tetapi bukan diiringi musik dari i-pod melainkan Zela sendiri yang bermain gitar, ini salah satu jejak yang ditinggalkan Agi.
" Dua minggu dia nggak nemuin gue " pikir Zela
bug…bug…bug…
" Bola basket, pasti Agi mau ngajakin gue main basket " Zela mengintip ke lapangan basket, Agi bersama Natha main basket dengan Ria. Zela menyalakan lagu pada i-podnya tanpa headsat membuat Agi sempat menengok.
        " Kenapa sih lo baik sama gue ? " Tanya Natha tersenyum manis.
" Karena gue mau menjaga lo, gue suka sama lo "
" Bukannya lo udah punya cewek, hmmm…. Zel… Zela namanya "
" Itu teman gue "
" Teman atau teman ? " Goda Natha.
" Gue temenan sama dia biar gue bisa dongkrak nilai-nilai gue "
“ Mustinya gue sadar, siapa dulu gue, dan Agi itu siapa, dan seharusnya gue ngerti cinta itu nggak ada “ ucap Zela dalam hati membuatnya lelah dan tertidur. Kepalanya sakit dan nafasnya tersengal.

*       *       *

        " Cinta itu tidak pernah ada, persetan dengan semuanya, kalau cinta rasa kotoran ayam menjadi seperti coklat. Tanpa kasih sayang dari kamu aku bisa mati, tidak ada, bohong, kamu tidak boleh jatuh cinta. Hanya orang bodoh yang ingin menjadi budak cinta " bentak lelaki tua itu.
" Cinta hanya ada dalam dongeng dan cerita-cerita bodoh " Sambung lelaki tua itu.

*       *       *

        " Zel, Zel, Zela… " Agi mengguncang-guncangkan tubuh Zela.
" Hhhhh, ngapain lo di sini ? "
" Ini kan tempat ngumpul kita " Jawab Agi
Entah apa yang Agi pikirkan seenaknya saja membuang orang kemudian mengangkatnya lagi untuk kepentinganya sendiri, egois dan munafik. Zela menatap Agi dengan rasa penuh Tanya.
" Kenapa lo ngeliatin gue ? " Zela memalingkan pandangannya
" Kenapa lo, hidung lo, Zel ? "
Zela melihat hidungnya, darah segar mengucur dari hidungnya
" Nggak, nggak ada apa-apa kok " jawab Zela meninggalkan Agi tak peduli.

*       *       *

        " Tahu nggak, gang kecil di belakang sekolah kita mau dijadiin kantin, katanyan mau diperbesar gitu "
" Serius lo ? "
" Iya "
Zela menguping pembicaraan dua cewek itu, kemudian bergegas mencari Agi.
        Mereka mendapat penjelasan dari kepala sekolah bahwa gang tersebut akan dibongkar tiga hari lagi. Zela menangis tersedak membuat batuk darah segar memuncrat ke bajunya.
" Lo kenapa ? " Zela buru-buru membersihkannya
" Nggak, berarti gang ini umurnya nggak lama lagi "
" Kita cari basecamp lain aja "
" Rasanya takut ketika kehancuran segera menyapa, ketidakberdayaan atas diri dan tak ada yang tahu atas ini "
" Puisi lo keren, tapi apa maksudnya ? "
" Nggak ada, mau main basket ? "
" Boleh "
Agi membantu Zela mengingat bagaimana rasanya senang, mencurahkan sebagian kasih sayang walau palsu tetapi Zela terus tertawa menikmatinya.
        Makan bakso, itu juga ritual bahagia yang sering mereka lakukan. Main pesawat-pesawatan kertas di taman, Balapan makan ice cream, lempar-lemparan makan kacang pilus.
" Lo mau kan sampai gang dirubuhin, lo selalu bersama gue ? "
" Kenapa nggak "
" Pinky promise, kalau sampai bohong, lo petot " Zela mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Agi. Ini hal yang paling paten dianggap Zela yang mungkin buat Agi takut kehilangan ketampanannya.

*       *       *

        ' Zela……..' Teriakan nyaring menghentikan langkah tegap buruh terhenti, menunda mereka untuk menghancurkan gang tersebut. Agi menatap dinding-dinding gang terdapat tempelan-tempelan kertas dan yang paling menonjol hasil test laboratorium, gambar scene paru-paru, disampingnya terdapat kertas penjelasan.
" Kanker paru-paru " Agi membacanya perlahan
" Zel, ini alasan lo ngelarang gue ke gang, alasan lo bolos sekolah untuk menjaga gang ini untuk terakhir kali dan maksud puisi itu " Agi mengingat deretan kata-kata puisi yang terkhir Zela ucapkan, kemudian mencabut kertas-kertas yang lain.

*       *       *

        Zela dikuburkan di tempat yang penuh cinta dan kasih sayang, belakang taman yang biasanya menjadi tempat ritual bahagia dengan Agi.

*       *       *

Bagai Ombak
Yang menebas batu karang
Seperti Aku yang terkikis habis
Oleh penyakit yang tiada henti menghancurkanku.

Berharap pada
Yang tak pernah mungkin
Mencintai sesuatu yang tak hadir
Jika ini memang takdirku
Yang selalu berharap pada mimpi.

Tenggelamkan jiwa dalam lembah
Sepi hancurkan ingin harapan
Dan lupakan yang telah aku khayalkan.

Jingga tebarkan pesona haru
Bersuka cita kelam selalu ada
Menanti hadirnya aku
Menyeruak bahagia
Menghapus tawa
Tak seindah sekiranya.

Menunggu bintang datang
Dikala mendung dewasa berkuasa
Menghapus harapan yang pantas sirna
Menjalani hal yang nyata
Terpaksa mencari tempat tudungan air, terbiasa
Terus mengayuh ke tepi
Meski tahu tak indah.

        Agi membaca kertas-kertas tersebut sambil mengartikan maksudnya, kemudian membaca satu kertas dari genggaman Zela.
        Gue tahu siapa gue, gue nggak pantas bersanding dengan lo baik jadi teman apalagi sahabat. Itu sebabnya gue menjauh dari dunia indah karena itu bukan tempat yang cocok buat gue. gue nggak tahu arti cinta dan nggak pernah ngerasainnya tapi dari itu gue belajar untuk mencintai, dan cinta itu hadir buat lo, buat orang yang mandang gue sebagai alat Bantu, yang memberikan gue cinta palsu. Meski sakit, pedih terpaksa tersenyum tapi ini jalan untuk gue lebih lama paham bagaimana rasanya ada perhatian, kasih sayang, dan cinta walaupun itu nggak benar-benar ada. Gue mohon lo menyimpan puisi-puisi ini.
Terima kasih
Zela
" Gi, Agi " mata Agi membelalak tajam terkejut
" Lo ?! "
" Maafin gue, maaf, maaf "
" Zel, gue yang harus minta maaf "
" Boleh peluk ? Agi mendekap Zela erat sampai dia-pun tak sadar Zela telah tidak ada. I - pod yang sering digunakan Zela terjatuh membuat Agi tersentak.



Dibuat  : Sunday, may 05-06, 2007


2 comments:

  1. endingnya tragis hitz hitz

    http://www.very.web.id/

    ReplyDelete
  2. yah, begitulah hidup
    Loh ? ahaha
    makasih yah komennya, ka :)

    ReplyDelete

semakin dikorek semakin hot